9moonsago.com – Pernahkah Anda bangun tidur dengan hidung tersumbat atau kepala pening, padahal semalam tidur cukup? Atau mungkin Anda merasa udara di dalam apartemen terasa “berat” dan pengap? Sering kali kita menyalahkan cuaca atau debu jalanan, padahal musuh sebenarnya mungkin bersembunyi di dalam rumah kita sendiri. Mulai dari cat dinding, perabot kayu partikel, hingga asap residu masakan, semuanya melepaskan senyawa kimia tak kasat mata yang kita hirup setiap hari.
Solusi modern biasanya menyarankan kita membeli air purifier canggih dengan filter HEPA yang harganya bisa setara cicilan motor. Tapi, bagaimana jika alam sudah menyediakan teknologi pembersih udara yang jauh lebih estetik, murah, dan—jujur saja—membuat feed Instagram Anda terlihat lebih hidup?
Jawabannya ada pada dua pahlawan tanpa tanda jasa di dunia botani: Tanaman Indoor Pembersih Udara: Lidah Mertua & Sirih Gading. Kedua tanaman ini bukan sekadar hiasan pojok ruangan. Mereka adalah mesin biologis yang bekerja 24 jam menyaring racun, tanpa perlu dicolok ke listrik dan tanpa suara bising kipas angin. Mari kita bedah mengapa duo maut ini wajib ada di hunian Anda.
NASA Clean Air Study: Bukan Sekadar Mitos Facebook
Sebelum Anda skeptis dan menganggap ini pseudosains ala grup WhatsApp keluarga, mari kita bicara data. Pada akhir tahun 80-an, NASA melakukan penelitian terkenal bernama Clean Air Study. Tujuannya mencari cara memurnikan udara di stasiun luar angkasa yang tertutup rapat.
Hasilnya mengejutkan: tanaman tertentu ternyata mampu menyerap Volatile Organic Compounds (VOCs) seperti benzena, formaldehida, dan trikloroetilen. Di antara deretan tanaman elit tersebut, Lidah Mertua (Sansevieria) dan Sirih Gading (Epipremnum aureum) muncul sebagai juara bertahan. Mereka bukan hanya “bisa” hidup di dalam ruangan, tapi “berkembang” sembari membersihkan kekacauan kimiawi di udara kita.
Lidah Mertua: Pabrik Oksigen Shift Malam
Kebanyakan tanaman “tidur” di malam hari, menyerap oksigen dan melepaskan karbondioksida (seperti manusia). Inilah alasan kuno mengapa orang tua dulu melarang menaruh tanaman di kamar tidur. Namun, Lidah Mertua adalah pengecualian yang membangkang aturan tersebut.
Tanaman berdaun keras dan tajam ini memiliki metabolisme unik yang disebut CAM (Crassulacean Acid Metabolism). Sederhananya, ia justru melepaskan oksigen murni di malam hari saat suhu menurun. Menempatkan pot Lidah Mertua di samping tempat tidur adalah hack kehidupan nyata untuk mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik. Selain itu, ia dikenal ganas dalam melahap formaldehida—zat kimia berbahaya yang sering menguap dari lem lemari, tisu, dan produk pembersih rumah tangga.
Sirih Gading: Si “Devil’s Ivy” yang Sulit Mati
Jika Lidah Mertua adalah penjaga malam yang kaku, Sirih Gading adalah teman yang santai dan fleksibel. Tanaman merambat dengan daun berbentuk hati ini mendapat julukan Devil’s Ivy karena satu alasan: ia hampir mustahil untuk dibunuh (kecuali Anda benar-benar berusaha keras memusnahkannya).
Keunggulan utama Sirih Gading sebagai salah satu Tanaman Indoor Pembersih Udara: Lidah Mertua & Sirih Gading adalah kemampuannya menyerap racun dari asap rokok dan emisi kendaraan yang mungkin masuk lewat jendela. Daunnya yang rimbun dan cepat tumbuh menjadikannya filter alami yang efektif. Tips dekorasi: biarkan ia menjuntai dari rak buku atau pot gantung untuk memberikan kesan urban jungle yang instan.
Tim Anti-Ribet: Lupa Siram Bukan Masalah
Mari jujur, tidak semua orang punya tangan dingin (green thumb). Banyak dari kita adalah pembunuh berantai tanaman yang tidak sengaja. Di sinilah kedua tanaman ini bersinar.
Lidah Mertua berasal dari daerah kering Afrika. Ia lebih suka diabaikan daripada diperhatikan berlebihan. Anda cukup menyiramnya 2-3 minggu sekali. Malah, menyiramnya terlalu sering akan membuat akarnya busuk. Sirih Gading pun setali tiga uang; ia bisa hidup di media tanah maupun hanya di dalam vas berisi air. Lupa menyiram seminggu? Daunnya mungkin layu sedikit, tapi begitu disiram, ia akan segar kembali dalam hitungan jam seolah tidak terjadi apa-apa. Cocok untuk kaum milenial sibuk yang bahkan sering lupa makan siang.
Penempatan Strategis untuk Hasil Maksimal
Agar fungsi filtrasinya optimal, jangan asal taruh. Untuk Lidah Mertua, tempatkan di area dengan sirkulasi udara terbatas seperti kamar tidur atau kamar mandi (ya, ia bisa bertahan di kelembapan tinggi dan cahaya minim). Bentuknya yang vertikal dan ramping tidak memakan banyak tempat di lantai (floor space).
Sementara itu, Sirih Gading sangat suka cahaya tidak langsung. Tempatkan di ruang tamu dekat jendela, atau di dapur untuk menyerap polutan hasil pembakaran kompor gas. Satu pot Sirih Gading rimbun di atas kulkas bisa menjadi focal point yang menyegarkan mata sekaligus paru-paru.
Sisi Gelap: Peringatan untuk Pemilik Anabul
Tidak ada pahlawan yang sempurna. Di balik manfaat luar biasanya sebagai Tanaman Indoor Pembersih Udara: Lidah Mertua & Sirih Gading, ada satu fakta penting yang harus diketahui pemilik hewan peliharaan (anabul).
Kedua tanaman ini mengandung kristal kalsium oksalat yang bersifat racun jika tertelan oleh kucing atau anjing. Efeknya bisa berupa iritasi mulut, muntah, hingga kesulitan menelan. Jadi, jika kucing Anda memiliki hobi mengunyah apa pun yang berwarna hijau, pastikan tanaman ini diletakkan di tempat tinggi yang tidak terjangkau (untuk Sirih Gading) atau pertimbangkan tanaman alternatif yang pet-friendly (untuk Lidah Mertua). Keamanan penghuni rumah tetap nomor satu.
Kesimpulan
Menciptakan rumah sehat tidak harus mahal atau rumit. Dengan mengadopsi Lidah Mertua dan Sirih Gading, Anda melakukan investasi jangka panjang untuk kesehatan paru-paru dan kewarasan mental. Mereka membersihkan udara, mempercantik ruangan, dan mengajarkan kita untuk merawat kehidupan dengan cara yang paling sederhana.
Jadi, daripada uang Anda habis untuk membeli filter udara elektronik yang perlu diganti tiap bulan, mengapa tidak mampir ke toko tanaman akhir pekan ini? Pilih pot yang cantik, bawa pulang dua pahlawan hijau ini, dan rasakan bedanya saat Anda menarik napas dalam-dalam di rumah sendiri.
