AI Art Generator: Apakah Midjourney Akan Menggantikan Seniman?
9moonsago.com – Bayangkan Anda adalah seorang ilustrator yang menghabiskan waktu sepuluh tahun untuk mengasah teknik arsir, memahami teori warna, hingga mampu menangkap emosi manusia dalam selembar kanvas digital. Lalu, dalam satu malam di tahun 2022, dunia mendadak berubah. Sebuah perintah teks sederhana berbunyi “Astronaut riding a horse in style of Van Gogh” menghasilkan gambar yang nyaris sempurna dalam hitungan detik. Tiba-tiba, jutaan orang bertanya hal yang sama: Apakah Midjourney Akan Menggantikan Seniman dan mengakhiri era kreativitas manusia?
Ketakutan ini bukan tanpa alasan. Kita melihat hasil karya AI memenangkan kompetisi seni rupa, menghiasi sampul majalah ternama, hingga mengisi aset-aset dalam industri video game. Rasanya seperti menonton mesin uap yang pertama kali menggantikan tenaga kuda—cepat, efisien, dan sedikit menakutkan. Namun, benarkah seni hanya soal hasil akhir yang indah secara visual, atau ada sesuatu yang lebih dalam yang tidak bisa diproduksi oleh algoritma?
When you think about it, setiap lompatan teknologi selalu membawa kecemasan akan “kepunahan” profesi tertentu. Dulu, penemuan kamera dianggap akan membunuh seni lukis potret. Namun, alih-alih mati, seni lukis justru berevolusi menjadi impresionisme dan ekspresionisme. Pertanyaannya sekarang, apakah kita sedang menyaksikan kematian seni, atau sekadar proses kelahiran kembali yang menyakitkan? Mari kita bedah lapisan-lapisan kompleks dari fenomena ini.
1. Kasus Jason Allen: Peringatan Pertama Bagi Dunia Seni
Pada akhir 2022, sebuah karya berjudul “Théâtre D’opéra Spatial” memenangkan tempat pertama di divisi seni digital Colorado State Fair. Masalahnya? Karya tersebut dibuat oleh Jason Allen menggunakan Midjourney. Dunia seni pun gempar. Banyak seniman merasa dicurangi karena merasa AI “mencuri” referensi dari jutaan karya manusia tanpa izin.
Faktanya, AI seperti Midjourney tidak benar-benar “mengerti” apa yang ia gambar. Ia adalah mesin prediksi statistik yang sangat canggih. Ia memecah gambar menjadi partikel noise dan menyusunnya kembali berdasarkan pola yang ia pelajari dari database. Insight bagi para kreator: meskipun AI bisa memenangkan kompetisi karena estetika visualnya, ia tetap membutuhkan “nakhoda” manusia untuk memberikan ide orisinal. Tanpa perintah (prompt) yang spesifik dari Allen, karya tersebut tidak akan pernah ada.
2. Mesin vs Jiwa: Apa yang Hilang dari Piksel AI?
Seni seringkali didefinisikan sebagai ekspresi pengalaman manusia—rasa sakit, cinta, kehilangan, dan harapan. AI tidak memiliki perasaan. Ia tidak pernah merasakan patah hati atau kekaguman pada senja. Inilah alasan mengapa karya AI seringkali terasa “dingin” atau terlalu simetris dan sempurna jika diperhatikan secara mendalam.
Dalam industri komersial, kecepatan AI memang tak terkalahkan. Namun dalam seni murni (fine art), nilai sebuah karya seringkali terletak pada narasi di baliknya. Bayangkan jika Anda membeli sebuah lukisan karena tahu sang pelukis menghabiskan waktu setahun di pegunungan untuk mencari inspirasi. Nilai emosional itu tidak bisa digantikan oleh mesin. Tips bagi seniman di tahun 2026: fokuslah pada narasi dan keaslian pengalaman personal Anda. Itulah satu-satunya benteng yang belum bisa ditembus oleh Midjourney.
3. Disrupsi di Sektor Komersial dan Stok Foto
Jika kita bertanya secara jujur, sektor mana yang paling terancam? Jawabannya adalah desainer grafis tingkat menengah ke bawah, penyedia foto stok, dan ilustrator konten media sosial yang bersifat generik. Perusahaan kini lebih memilih menggunakan AI untuk membuat aset visual cepat daripada menyewa ilustrator lepas dengan tarif jutaan rupiah.
Data menunjukkan penurunan permintaan yang signifikan di platform seperti Upwork atau Fiverr untuk pekerjaan desain sederhana. Ini adalah sisi gelap dari efisiensi AI. Jab sedikit untuk industri kreatif: kita tidak bisa lagi hanya menjual “keterampilan teknis” menggambar. Jika keahlian Anda hanya sekadar memindahkan instruksi klien ke dalam gambar tanpa nilai tambah konseptual, maka AI akan menjadi kompetitor yang sangat tangguh.
4. Etika dan Hak Cipta yang Menghantui
Salah satu alasan kuat mengapa banyak profesional masih ragu sepenuhnya adalah isu legalitas. Midjourney dilatih menggunakan miliaran gambar dari internet, banyak di antaranya adalah karya seniman yang masih hidup tanpa kompensasi apa pun. Hingga tahun 2026 ini, perdebatan mengenai hak cipta karya AI masih menjadi medan tempur di pengadilan berbagai negara.
Banyak perusahaan besar melarang penggunaan AI Art dalam produk mereka karena takut akan gugatan hak cipta di masa depan. Ini memberikan “napas tambahan” bagi seniman manusia. Analisis dari para ahli hukum menyarankan agar seniman mulai mendaftarkan hak cipta mereka dengan lebih ketat dan menggunakan alat pelindung seperti Nightshade atau Glaze untuk “meracuni” algoritma AI agar tidak bisa meniru gaya mereka dengan mudah.
5. Evolusi Peran: Seniman Sebagai “Sutradara” AI
Alih-alih digantikan, banyak seniman visioner justru memilih untuk “menjinakkan” Midjourney. Mereka menggunakan AI sebagai alat untuk membuat papan cerita (storyboard), mencari referensi komposisi, atau mempercepat proses pewarnaan dasar. Di sini, peran seniman berevolusi menjadi seperti seorang sutradara film.
Sutradara tidak memegang kamera atau menata lampu sendiri, tapi dialah yang memegang visi kreatif. Seniman masa depan adalah mereka yang mampu menggabungkan kepekaan rasa manusia dengan kecepatan komputasi AI. Bayangkan Anda bisa menyelesaikan 10 konsep karakter dalam satu jam, lalu menghabiskan sisa waktu Anda untuk memberikan detail manual yang memberikan jiwa pada karakter tersebut. Kolaborasi inilah yang justru akan menciptakan standar baru dalam industri kreatif.
6. Pendidikan Seni di Era Pasca-AI
Jika Midjourney bisa menggambar anatomi manusia dengan sempurna, apakah mahasiswa seni masih perlu belajar menggambar tangan selama berbulan-bulan? Jawabannya adalah: Ya, lebih dari sebelumnya. Mempelajari dasar seni bukan hanya soal hasil, tapi soal melatih mata untuk melihat dan otak untuk memecahkan masalah visual.
Tanpa pemahaman dasar yang kuat, seorang “prompt engineer” (pengguna AI) tidak akan tahu mengapa sebuah gambar terasa salah atau bagaimana cara memperbaikinya. Pengetahuan tentang komposisi, perspektif, dan anatomi tetap menjadi pembeda antara pengguna AI amatir dan profesional yang menggunakan AI. Tips untuk mahasiswa seni: pelajari AI sebagai mata kuliah pendukung, tapi jangan biarkan ia menjadi pengganti proses berpikir kritis Anda.
Kesimpulan
Jadi, Apakah Midjourney Akan Menggantikan Seniman? Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. AI akan menggantikan seniman yang hanya bekerja seperti mesin, namun ia akan menjadi alat yang luar biasa bagi seniman yang bekerja dengan jiwa dan visi. Teknologi tidak pernah membunuh seni; ia hanya membunuh metode yang lama dan memaksa kita untuk mencari makna yang lebih dalam tentang apa artinya menjadi seorang kreator.
Masa depan seni bukan tentang manusia versus mesin, melainkan tentang bagaimana manusia mendefinisikan kembali kreativitas di dunia yang dipenuhi oleh kemudahan instan. Sudahkah Anda siap untuk berevolusi, atau tetap bertahan pada cara lama yang mulai tergerus zaman? Pilihan ada di tangan Anda, dan setiap goresan (atau prompt) yang Anda buat adalah pernyataan tentang masa depan tersebut.
